KKL Tahap I : Sebuah Stimulus Sederhana Menyadari Sisi Dinamis Bumi

KKL Tahap I : Sebuah Stimulus Sederhana Menyadari Sisi Dinamis Bumi

Penulis: Muhammad Nafis

Mengikuti KKL atau Kuliah Kerja Lapangan untuk pertama kalinya memberi kesan khusus bagi Prodi Pendidikan Geografi Angkatan 2018. Pelaksanaan KKL Tahap I berlangsung secara kooperatif bersama lembaga adat Kasepuhan Sinarresmi yang masyarakatnya secara administratif merupakan penduduk Desa Sirnaresmi, Desa Cicadas, dan Desa Cimapag, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Satu dari tiga nama desa diatas telah menjadi sorotan nasional ketika semarak menyambut tahun baru 2019 turut disertai oleh gemuruh tanah longsor yang menimbun sekelompok pemukiman di lereng bukit. Kejadian yang demikian mengejutkan bagi masyarakat setempat kemudian menjadi topik diskusi antara seluruh peserta KKL dengan Ketua Adat Kasepuhan Sinarresmi, Abah Asep Nugraha, yang mengungkap tegas bahwa nahasnya longsor di malam tahun baru merupakan sebuah keniscayaan akan dilanggarnya pesan leluhur.

Bagi masyarakat setempat, lahan merupakan tutupan dan titipan dimana segala bentuk pengolahannya mesti memerhatikan keseimbangan alam. Adat bernuansa lingkungan yang tertanam kuat pada tatanan masyarakat adat sinarresmi seakan merupakan bentuk harmonisasi antara sisi pengetahuan dan persepsi akan bahaya yang terjadi secara konsekuen bila suatu aksi dilancarkan. Longsor yang terjadi di Dusun Garehong, Desa Cimapag, pula merupakan bentuk harmonisasi antara pengetahuan dan persepsi masyarakat adat akan bahaya bencana. Dimana bila ditinjau secara keilmuan, kondisi tanah Dusun Garehong yang terbilang sangat lepas (porous) tentu tidak cocok bila diatasnya berdiri pemukiman, apalagi dengan intensitas hujan yang cukup besar. Pandangan keilmuan tersebut pun searah dengan persepsi masyarakat adat yang menyatakan bahwa memang sejak dulu para leluhur melarang penggunaan lahan di kawasan perbukitan yang kemudian, karena kebutuhan ekonomi, menjadi Dusun Garehong. Terjadinya ketidakcocokan antara kondisi fisik dengan tindakan manusia pun berakhir menjadi bentuk intoleransi bumi yang “dipertunjukkan” melalui bencana tanah longsor, yang seakan menjadi pesan bahwa bumi sedang memperbaiki dirinya sendiri.

Transfer pengetahuan dan kearifan lokal mengenai kebencanaan pada KKL Tahap I ini cukup kompleks, selain diskusi dan wawancara yang dilakukan mahasiswa pada masyarakat setempat, diberikan pula pematerian kebencanaan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. Pemateri dari instansi BPBD menyampaikan bahwa secara teoretis, persamaan resiko berbanding lurus dengan bahaya (hazard) dikali kerentanan (vulnerability) namun berbanding terbalik dengan kapasitas (capacity) yang secara implisit mengartikan bahwa betapa pun besarnya bahaya dan kerentanan akan suatu potensi bencana, tidak akan terlalu beresiko bila masyarakatnya memiliki kapasitas atau dalam kata lain kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Dalam KKL Tahap I yang bertemakan mitigasi bencana ini, tentu kesadaran akan bencana merupakan satu komponen penting yang mampu meminimalisir korban materil maupun imateril dalam sebuah bencana sebagai bencana didefinisikan sebagai suatu peristiwa atau rangkaian peristilahan yang merugikan/mengancam kehidupan manusia baik karena faktor fisik, non-fisik, ataupun faktor sosial.

Kajian pada KKL Tahap I ini difokuskan pada tiga desa yang masyarakatnya masih merupakan “incu putu” atau kerabat dari Kasepuhan Sinarresmi, yakni Desa Cicadas yang kajiannya berfokus di Dusun Bojong Tengah, Desa Cimapag yang kajiannya berfokus di sekitar Dusun Garehong, serta Desa Sirnaresmi. Meskipun tidak secara langsung disadari, KKL Tahap I ini seakan-akan mengajak pesertanya untuk beranjak mengobservasi potensi bencana hingga peristiwa bencana yang sudah terjadi. Di Desa Cicadas, dengan merujuk pada pembagian kelas kemiringan lereng menurut Van Zuidam, peserta KKL menyaksilan sebuah pemukiman yang cukup padat dibangun diatas lereng bukit dengan kemiringan berkisar pada 15 – 30% yang mengartikan bahwa lahan memiliki lereng yang curam. Dengan keadaan tersebut, mahasiswa melihat retakan-retakan yang timbul di sepanjag jalan maupun dinding rumah warga yang memberi kesan rawannya terjadi tanah longsor. Keesokan harinya, peserta KKL sama-sama berjalan kaki sepanjang kurang lebih empat kilometer sembari menikmati udara pagi hingga tiba di Desa Cimapag, disana para peserta KKL turut menyaksikan bagaimana “petaka” tanah longsor pada momen tahun baru di Dusun Garehong yang mengakibatkan jatuhnya 33 korban jiwa dapat terjadi. Pada kesempatan tersebut, para dosen berikut saksi mata bencana longsor menjelaskan bahwa longsoran, secara kronologis, tidak terjadi secara meluncur sebagaimana umumnya namun timbunan massa di lereng atas bukit menimpa pemukiman setempat. Beberapa jam sepulang menyaksikan “bekas” tanah longsor di Dusun Cimapag, peserta KKL pula turut mengidentifikasi potensi tanah longsor di Desa Sirnaresmi, dimana kearifan lokal dan kedekatan spiritual pada masyarakat setempat cukup melekat dalam menanggapi bahaya tanah longsor.

Rangkaian kegiatan KKL yang berlangsung selama empat hari tiga malam ini baik secara langsung dan tidak langsung telah memberi stimulus atau sentuhan pada para pesertanya maupun masyarakat akan bahaya bencana tanah longsor. Terharap di hati kami bahwa pengetahuan yang kami dapat melalui KKL Tahap I ini mampu memberi banyak pengalaman yang dapat berubah menjadi pengamalan secara ilmiah terutama terkait kesiapsiagaan bencana.