Peserta KKL Tahap 3 Kunjungi Bendungan Terbesar di Asia Tenggara

Oleh: Muhamad Abdul Azis

Tanggamus. Peserta dan dosen pembimbing Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahap 3 mengunjungi Bendungan Batutegi di Kabupaten Tanggamus yang merupakan bendungan terbesar di Asia Tenggara. Minggu (18/4/2019) sebelum menuju Kota Bandar Lampung.

Tanggamus yang merupakan wilayah rawan bencana, memiliki banyak sekali potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan Provinsi Lampung. Seperti yang disampaikan oleh Drs. Jupri, M.T. “Sumber daya dan potensi bencana ibarat dua sisi mata uang,” terangnya.

Disambut petugas yang bertanggungjawab di Bendungan Batutegi yaitu Busman, mahasiswa diberikan informasi mengenai bendungan yang dibangun pada tahun 1995 hingga 2001 ini. Batutegi memiliki arti “batu tegak”, toponimi ini berdasarkan fenomena adanya batu besar yang tampak menggantung di sisi bukit pada bendungan ini.

Bendungan ini memiliki luas hampir 20.000 Ha dan menghasilkan listrik sebesar 28 megawatt yang dihasilkan dari dua turbin yang ada, serta cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Lampung. Selain untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), bendungan ini berfungsi untuk irigasi persawahan dan perkebunan di wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Kota Metro.

Diperkirakan pembangunan bendungan ini memakan dana sebesar 1 trilliun rupiah, mendapat sokongan dana dari Bank Dunia. Pada masa pembangunan bendungan ini, memakan korban sebanyak 13 jiwa, akibat terowongan yang runtuh. Mahasiswa dan dosen pembimbing pun menyampaikan do’a kepada arwah korban, tepat di depan monumen peringatan tragedi tersebut yang dipimpin oleh Riki Ridwan, S.Pd. M.Sc.

“Kita harus menghargai apa yang dibangun oleh negara, jangan sampai dirusak,” pesan dari petugas bendungan kepada seluruh peserta KKL tahap 3.

Drs. Jupri, M.T. memaparkan jika Indonesia selama ini masih belum optimal dalam memanfaatkan sumber daya air. “Jumlah bendungan di Indonesia masih kurang. Padahal sungai di Indonesia memiliki potensi untuk pembangunan bendungan dan iklim tropis yang memungkinkan curah hujan melimpah setiap tahun,” jelasnya.

Beliau pun menceritakan kunjungannya ke wilayah Metro sebelum bendungan ini dibangun. Masyarakat Metro menggunakan sistem pertanian gadu yaitu sistem tanam bergilir pada setiap lahan karena terbatasnya irigasi. “Sejak bendungan ini ada, sistem gadu sudah tidak ada. Karena irigasi yang mencukupi,” lapor petugas Bendungan Batutegi.

Bendungan ini memanfaatkan aliran air yang berasal dari mata air Sangarus dan Way Sekampung, Selain dimanfaatkan sebagai PLTA dan irigasi, bendungan ini menjadi destinasi pariwisata di Kabupaten Tenggamus. Karena bendungan ini memiliki green belt atau kawasan ruang terbuka hijau di sekitar bendungan yang masih sangat asri dan lestari.