NOTULA: “Menjadi Organisatoris prestatif, Kenapa Tidak?”

NOTULA: “Menjadi Organisatoris prestatif, Kenapa Tidak?”

NOTULENSI KAJIAN ONLINE (VIA GRUP WA)

NGABUBURIT BARENG MBAK DEWI

“Menjadi Organisatoris yang Prestatif, Kenapa Tidak?”

Penyelenggara             : BEM HMP Geografi Universitas Pendidikan Indonesia

Waktu                         : Jum’at, 09 Juni 2017 (pukul 15.00 WIB s.d 17.00 WIB)

Notulensi                     : Eka Windi Maesyaroh

Modertor                     : Andre Wirapati Prasasta Natsir

Pemateri                      : Dewi Nur Aisyah , S.KM, M.Sc.

  • Penerima Beasiswa BPRI
  • Mahasiswa berprestasi FKM UI lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude
  • Penulis buku Awe-Inspiring Me

Outline Materi:

  1. Hidup sekali, hiduplah yang berarti
  2. Pertanyaan Mendasar Untuk Mahasiswa
  3. Seberapa penting akademik dan organisasi?
  4. Akademis juga organisasi tapi jangan lupa prestasi!
  5. Menjadi mahasiswa itu MENYENANGKAN.
  6. Cara mendisiplinkan diri.

 

  • MATERI
  1. Hidup sekali, hiduplah yang berarti

“Setiap hari Afrika mengawali pagi, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari seekor singa. Yang tercepat, atau ia akan terbunuh.

Setiap pagi seekor rusa bangun, tahu bahawa ia harus mencari rusa yang paling lambat, atau ia akan mati kelaparan.

Tidak masalah apakah kau adalah seekor singa atau seekor rusa; ketika matahari terbit, lebih baik kau mulai berlari”

(Puisi tradisional Afrika)

Puisi tersebut menggambarkan kepada kita bahwa menjadi apapun dirimu hari ini, kita harus senantiasa belari. Tema ini mengingatkan saya saat masih menjadi seorang mahasiswa. Dahulu saya ditakdirkan untuk menjalani S1 di FKM UI, yang merupakan pilihan kedua saya saat SPMB (Jaman dahulu namanya masih SPMB ya :D). Dan sampai saat ini status saya juga masih sebagai mahasiswa.

  1. Pertanyaan Mendasar Untuk Mahasiswa

Pertama kali saya mengenakan jaket kuning dan dilabeli sebagai mahasiswa, siswa yang kedudukannya menjadi Maha, saya berpikir sebenarnya menjadi mahasiswa ini manfaatnya apa sih? Untuk apa kita menjadi mahasiswa? Bisa apa jadi mahasiswa? Dan seberapa besar kebermanfaatannya?

Kemudian, sampailah pada saat yang dilematis ketika muncul pertanyaan “Akademik atau organisasi?”. Seingat saya dulu ada 4 tipe mahasiswa. Ada kupu-kupu (kuliah-pulang), kura-kura (kuliah rapat), kuda-kuda ( kuliah-dakwah), kunang-kunang ( kuliah­-senang-senang), nah kalian ada pada pilihan yang mana sekarang?

  1. Seberapa penting akademik dan organisasi.

Seberapa penting akademik?

  • Kewajiban menuntut ilmu dari buaian hingga ke liang lahat
  • Pembentukan insan cendekia
  • Kemanfaatan ilmu bagi masyarakat dan dunia
  • Sinergitas antara ilmu daa amal

Nah, sekarang coba kita pikir keuntungannya menuntut ilmu apa sih? Yang paling saya pahami, tidak mungkin kita bisa memberi jika tidak memiliki. Artinya, tidak mungkin kita bisa bermanfaat tanpa memiliki pengetahuan atau skill yang dibutuhkan masyarakat. Ini menjadikan ilmu begitu tinggi.

Seberapa penting organisasi?

  • Pengembangan softskill
  • Pengembangan sosialisasi diri dengan lingkungan
  • Pembelajaran tanggungjawab dan amanah
  • Management waktu
  • Memperluas network
  • Melatih percaya diri
  • Belajar manajemen waktu

Ada sederet manfaat saat kita mengikuti organisasi selagi menjadi mahasiswa ini, terutama dibidang soft skills. Mungkin saat kuliah belum begitu terasa, tapi saat sudah lulus kuliah dan bekerja, akan mulai berasa kebermanfaatannya. Jadi mau memilih yang mana? Akademis atau organisasi? Kalau saya pribadi, I’LL TAKE BOTH OF THEM. Kalau bisa mengambil dua, kenapa ambil satu, itu prinsip saya. Selagi kita bisa memaksimalkan potensi kita, mari dicoba dan bekerja sebisa kita.

Eits, tapi ada STOP POINTnya ya!

  • Jika kita ingin mengisi masa muda kita dengan lebih bermakna, selain belajar, organisasi juga dapat kita tekuni.
  • Jikapun kita memutuskan untuk menjadi organisatoris, kewajiban utama kita sebagai mahasiswa untuk belajar jangan ditelantarkan
  • Ukur kemampuan, jangan ambil amanah diluar kesanggupan!
  • Belajarlah bertanggungjawab atas pilihan yang kita ambil. JANGAN BAPER-AN!

Hal-hal yang harus kita ingat saat kita mengambil pilihan ini, yang pasti tanggung jawab dengan amanah kita. Jangan BAPER-AN! Lihat teman kupu-kupu ngiri dan ingin seperti dia juga. “Aduh saya capek nih, ikutan banyak kegiatan”. Ya iyalah…kan sudah menjadi pilihan kita untuk menjalani kedua hal. Maka wajar jika capeknya double. Lihat teman kuanga-kunang jalan-jalan, ngga usah juga baper litanya. Tanggungjawab dengan pilihan kita., itu kuncinya! Dan percayalah keberhasilan itu akan berbanding dengan perjuangan kita. Hal yang tidak kalah penting adalah mengukur kemampuan. Kita mampu mengemban amanah berapa banyak . Kalau maksimal sanggup tiga, jangan ambil lima. Karena nantinya ini adalah sumber dilemma.

  1. Akademis juga organisasi tapi jangan lupa prestasi!

Tadi kita sudah bahas pentingnya akademis maupun organisasi. Ada satu lagi kuadran yang ngga boleh dilupakan, yaitu PRESTASI!. Iya, ini akan menjawab pertanyaan mendasar saya, bisa apa sih kita? Prestasi ini bukan ajang membanggakan diri, namun sebuah momen pembuktian bagi saya (utamanya kepada orang tua saya), meskipun saya sibuk dengan kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus, saya juga masih bisa berkarya. Ini juga bentuk tanggungjawab kita kepada orang tua kita yang sudah susah payah menyekolahkan kita.

 

  1. Menjadi mahasiswa itu MENYENANGKAN.

Dan saya ingin mengingatkan teman-teman, menjadi mahasiswa itu MENYENANGKAN! Kenapa? Karena hanya dimasa ini kita bisa ikut-ikut konferensi (gratis/dapat subsidi), mengikuti beragam kompetisi (kadang dibatasi kompetisi untuk umum, lebih banyak untuk mahasiswa), masa dimana kita dapat beasiswa, dsb. Ini merupakan salah satu yang saya sayangkan dengan lulus 3,5 tahun, Privilage menjadi mahasiswa berkurang 6 bulan, padalah masih banyak konferensi, workshop, atau kompetisi lain yang bisa diikuti.

Dulu saat menjadi mahasiswa S1, saya terbiasa mengikuti banyak kegiatan dan organisasi. Mulai dari BEM di kampus, grup alumni, sampai yayasan. Kalau boleh jujur masa hectic saya berada pada semester 7. Di mana saat saya masih harus mengambil 4 SKS kuliah, mengerjakan skripsi, magang di puskesmas, dan mengemban 13 amanah di 10 organisasi yang berbeda. Meskipun begitu, saya ingin buktikan bahwa mahasiswa organisatoris itu bisa juga ko berprestasi. “Sistem Informasi Geografis dalam Pemodelan Filariasis Early Warning System”  Ini adalah karya tulis ilmiah saya yang pertama saat menjadi mahasiswa, di semester 2 kalau tidak salah. Dan kami menjadi finalis KKTM (Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa) saat itu. Maklum percobaan pertama. Hingga dipercobaan selanjutnya dan selanjutnya, saya mendapatkan juara 1 untuk penulisan ilmiah Olimpiade Mahasiswa Universitas Indonesia. Saat itu saya juga berpikir untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri saya, akhirnya saya mengikuti lomba menulis cerpen dan puisi . dan ternyata, saya menjadi juara!

Tahun ketiga kuliah, saya bertekad untuk mengikuti kompetisi-kompetisi di wilayah internasional. Di percobaan pertama saya, saya ditakdirkan menjadi finalis pada Altech Young Scientist Award. Dan lagi, berkat izin-Nya, tim kami menjadi perwakilan Indonesia di sebuah ajang kompetisi internasional di bidang teknologi. Alhamdulillah..hanya syukur yang bisa saya panjatkan. Ini akan menjadi pembuktian kepada orang tua saya bahwa saya tetap bisa berkarya. Pada semester 6 saya mengikuti ajang Mahasiswa Berprestasi , dan Alloh takdirkan saya untu menjadi juara 1 di FKM UI.

Semua hal diatas adalah bukti bahwa keberhasilan itu sesuai dengan besarnya usaha kita. Tidak mungkin menjadi MAPRES jika saya kupu-kupu saja, riwayat organisasipun diminta. Jadi semua memang harus seimbang kondisinya.

Coba diingat perkataan Aldous Huxley ini,

“ Anak tangga itu bukanlah tempat beristirahat, melainkan hanya untuk menopang sebelah kaki agar kaki yang lainnya dapat naik lebih tinggi.”

 

Jadi tetapkan dari sekarang, apa visi kita kedepannya, mau menjadi apa, mau memberi manfaat dibidang apa, dengan cara apa. Buatlah bagan agar kita bisa lebih terarah dan kita bisa menilai alur mana yang akan kita ambil kedepannya. Dan tetapkan kira-kira kita ingin mengambil ladang kerja yang  mana ke depannya?

  • private sector: economic tasks, investment tasks, profit generation, promotion of self-sufficiency.
  • public sector: Policy management, regulation, enforcement of equity,prevention of discrimination, prevention of exploitation, promoyion of social cohesion.
  • third sector: social tasks, tasks that require volunteer labor, tasks that generate little profit, promotion of individual responsibility, promotion of community, promotion of commitment to welfare of others.

Maka saya mebahasakan semua lelah dan perjuangan saya saat S1 sebagai BAHASA SYUKUR saya, karena Alloh/Tuhan sudah begitu baik memudahkan semua. Jika kita memang bertekad kuat dan disiplin mengejar mimpi kita.

 

  1. Cara mendisiplinkan diri.

Jadi bagaimana caranya kita bisa begitu? Akademis jalan,organisasi jalan, prestasipun jalan. Saya bisa bilang bahwa kunci yang tidak boleh dilupa adalah DISIPLIN kepada diri kita sendiri, disiplin kepada perencanaan dan target-terget yang ingin kita kejar.

Jika sebuah mimpi tidak menghasilkan tindakan, artinya ada masalah dengan mimpi tersebut. Bukan berarti berhenti bermimpi,perbaikilah cara bermimpinya. Karena jika seseorang memang benar-benar menginginkan sesuatum dia pasti bertindak untuk mengejar impiannya.

 

Tips mendisiplinkan diri yang pertama adalah adalah, menjadikan mimpi kita tidak sekedar MIMPI namun CITA yang berarti. Bedanya apa? Orang yang bermimpi masih akan asik dengan beyangannya sendiri, tak berusaha untuk mulai bekerja dan berlari, sedangkan orang yang ber CITA akan sungguh-sungguh bergerak mewujudkan mimpi.

Tips berikutnya adalah bersungguh-sungguh,

“Perbedaan antara mereka yang berhasil dalam hidupnya dengan yang lain bukanlah karena kurangnya kekuatan atau ilmu, tetapi lebih pada kekurangan kesungguhan dan kemauan orang itu untuk maju dan berhasil.”

 

Kegigihan adalah terus maju mencapai tujuan walaupun menghadapi segala kesulitan, tidak mundur setapakpun ketika di hadapan rintangan yang menghalangi dan berusaha sekuat mungkin untuk menaklukannya. Coba diingat-ingat perkataan Quraish Shihab ini, “ Katakan kepada yang berkata tidak bisa, cobalah! yang berkata mustahil, buktikanlah! Yang berkata tak tahu, belajarlah!”

 

Pertanyaan selanjutnya pasti, bagaimana cara membagi waktu?

  • Buatlah perencanaan
  • Set up you goals!
  • List perencanaan yang realistis
  • Buatlah jadwal per bulan, mingguan, dan harian
  • Kerjakan apa yang sudah dijadwalkan
  • Disiplinkan dengan jadwal

Cara yang pertama adalah membuat perencanaan. Lalu buat turunan jadwan hingga harian. Kalau sudah buat jadwal, dispilinkan dengan jadwal kita.

  • Rumus keberhasilan berbanding lurus dengan perjuangan

“Keberhasilan tidak bersama orang yang buru-buru memetik buah sebelum masak, tetapi tidak pula bersama orang-orang yang hanya menunggu tapi tidak pula menanam. Ia tidak bersama orang-orang yang berlebihan, tetapi ia tidak pulabersama orang-orang yang enggan dan tidak berbuat sama sekali.ia tidak bersam orang-orang yang bertindak tanpa perhitungan, tetapi ia tidak pula bersama orang yang terlalu takut berbuat. Terus bersemangatlah wahai muslimah, karena sungguh ada sketsa keberhasilan di penghujung ikhtiar, ada ukiran kemenangan di akhir jalan perjuangan.”

–Dewi N. Aisyah

 

Usaha yang minim ,tapi mau hasil yang maksimal. Apa mungkin sama mereka yang sudah bekerja selama 6 bulan dengan yang bekerja selama 3 bulan?

  • Muhasabah (evaluasi)

Orang yang hidupnya akrab dengan muhasabh menjadikan hatinya senantiasa hidup dan terjaga. Tidak mati dan lalai. Ia selalu menghitung –hitung prestasinya dihari ini dengan kemampuan dighari kemarin. Meningkatkah, sama, atau kian berkurang. Beruntunglah orang yang hari ini leboh baik dari kemarin. Merugilah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk dari kemarin.

Coba direnungi apa saja targetan yang tidak tercapai dan kenapa itu bisa tidak tercapai. Mereka yang suka mengevaluasi pasti memiliki sikap yang lebih matang kedapan. Mari mengambil resiko! Berhentilah menunggu kondisi membaik, namun lakukanlah sesuatu agar kondisi membaik. Jangan takut berbuat salah, berani mengambil resiko. Ingat, kura-kura bisa melangkah maju hanya kalau ia berani mengeluarkan kepalanya. Dan coba evaluasi apa sumber dari kegagalan kita.

Dan tips terahir adalah bagaimana meningkatkan kapasitas kita supaya cerdas organisasi dan cerdas akademik,

  1. Siapmenanggung beban sebagai tabiat
  2. Pemantapan ruhiyah (keimanan) sebagai motor penggerak utama
  3. Kerja cepat sebagai sebuah karakter
  4. Ketaatan sebagai sebuah akhlak
  5. Keteguhan sebagai benteng jiwa
  6. Pengorbanan sebagai semangat jiwa
  7. Cinta sebagai semangat kerja
  8. Keikhlasan sebagai puncak aktivitas
  9. Syurga sebagai balasannya.

Itu adalah rangkuman penting dari cara menyeimbangkan antara akademis dan organisasi. Mulaidari biasa menanggung beban, kerja cepat, penguatan iman, taat, teguh, ikhlas, cinta sebagai semangat kerja dan siap berkorban. Dan jangan lupa tanamkan rasa OPTIMIS! Optimis yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahan, mengetahui kesulitan, dan yakin kesulitan dapat diatasi,melihat negative tapi menekankan positif, menghadapi yang terburuk namun mengharapkan yang terbaik, mempunyai alasan untuk menggerutu tapi memilih untuk tersenyum. ^_^ Dan jangan takut mencoba, karena setiap tindakan belum tentu membawa hasil. Namun, tidak akan muncul sebuah hasil kalau tidak ada tindakan sama sekali.

Dan sebagai penutup, jika kau letih setelah berbuat kebaikan, maka keletihan itu akan hilang dan kebaikan itu akan kekal. Jika kau bersenang dalam dosa, maka kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal. Para pejuang sejati tik suka berjanji, tapi begitu mereka memutuskan untuk berbuat, maka mereka akan segera membuat rencana untuk memberi. Jangan pernah lelah untuk berkarya, karena karya kitalah yang dinanti negeri ini. Jangan pernah bosan untuk terus berusaha demi perbaikan negeri ini.

  • SESI PERTANYAAN
  1. Bagaimana ketika kita dibenturkan antara urusan organisasi dan akademik yang pada saat itu sama-sama penting utnuk tidak ditinggalkan?

Mengenai seruan AKSI tentu kita harus mengerti prioritas. Manakah yang paling urgent saat ini. Bagi saya pribadi, dulu juga saya dihadapkan pada kondisi yang sama. Di jurusan saya (yg mahasiswa hanya 10 orang), ngilang satu pasti berasa :D. Karena jurusan saya memang jarang yang berani ambil, dari 300 mahasiswa hanya 10 orang yang mengambil. Balik kepada urusan AKSI, selain tanggungjawab kita sebagai mahasiswa yang harus menuntut ilmu, ada juga seruan aksi dari organisasi. Pilih yang mana? Hitung-hitung kepentingannya, jika memang jadwal kuliahnya bukan jadwan ujian atau UAS dan kita merasa bahwa kita bisa catch up dengan materi hari itu (berbekal catatan atau slide dari dosen dan teman) silahkan berangkat aksi.

Dulu di jurusan saya, saya terkenal sebagai mahasiswa yang memaksimalkan jadwal bolos saya (pastinya jangan melewati batas ini ya). Tapi saya meyakini, jika yang saya lakukan ini adalah untuk Alloh, mengejar kebaikan untuk masyarakat, insyaAlloh akan ada kemudahan . Alloh akan memberikan jalan keluar dan point utama disini, jika kita mengambil opsi ikut AKSI, maka pelajaran kuliahnya pastikan bisa kita catch up, ayo kita belajar tanggungjawab. Itulah sebabnya meskipun saya yang paling sering ambil jatah absen, disaat ujian saya tetap membuktikan bahwa saya mendapat nilai terbaik.

  1. Bagaimana caranya jika saya tidak direstui orang tua ikut organisasi, namun saya sudah terlanjur terjun ke sana, dan mayoritas di sana adalah laki-laki bagaimana solusinya ka?

Yang pertama, kalau sudah dihadapkan pada orang tua saya akan memilih menaati perintahnya. Karena kalau mereka tidak ridho bisa jadi aktivitas kita pun tidak berkah. Bisa jadi ada masalah. Kalau memang kamu merasa masih bisa menjaga diri dalam berinteraksi meskipun berada pada organisasi yang lebih banyak prianya, maka yakinkan orang tua, dapatkan ridho mereka. Tapi kalau memang tidak tidak mengikutinyapun tidak apa-apa. Tapi ada yang harus dicatat , meskipun kita tidak ikut organisasi bentuk kebaikan apa lagi yang bisa saya kerjakan hari ini

  1. Bagaimana cara mengembangkan SDM dalam berorganisai?

Bisa jadi memang tidak mudah, utamanya karena sikap individualistic dan lebih suka kupu-kupu atau kunang-kunang. Mungkin bisa dicoba adalah pada saat penyambutan MABA nya. Di awal-awal biasanya kan ada OSPEK/ pengenalan kampus. Nah disitu kalau bisa dihadirkan pemateri yang oke agar mahasiswa baru menyadari bahwa organisasi itu asik kok, bermanfaat ko, dsb. Jangan lupa promo gencar-gencaran kepada mereka dan teman-teman kita, bungkus acara dengan cara yang menarik, dan berasa manfaartnya untuk mereka.

  1. Bagaimana jika organisasi dan akademik sudah mulai tidak seimbang?

Salah satu kunci bisa seimbang organisasi dan akademis adalah MANAJEMEN PERAN. Apa artinya? Pada saat menjadi mahasiswa, focus belajar mendengarkan dosen, kerjakan tugas-tugas. Saat berorganisasi focus menyelesaikan tugasnya. Karena kesalahan kebanyakan organisatoris adalah mikirin tugas kuliah saat organisasi. Saat organisasi mikirin tugas kuliah. Maka atur jadwal secara teratur dan disiplin. Disiplinkan diri juga untuk focus menjalani peran sesuai dengan waktunya.

  1. Bagaimana jika posisinya saya sedang menjadi ketua pada salah satu dari 3 organisasi kampus yang saya ikuti dan anggota suatu organisasi di desa. Tetapi orang tua sedikit membatasi sehingga saya tidak amanah. Bagaimana solusinya?

Tentu ada batasan juga dalam berorganisasi, utamanya wanita. Saya setuju saja untuk tidak pulang larut malam saat menjalani amanah di organisasi. Dulu ada beberapa tahapan terkait dengan orang tua. Awalnya ibu saya juga bertanya, kamu ngapain aja sih sibuk banget. Bisa jadi ada proporsi kita yang kurang untuk bercerita kepada mereka.Sedari SMA saat saya menjadi BPH inti OSIS, saya menjadi siswa terahir yang menutup gerbang sekolah. Pun saat kuliah, saya memang sudah harus pulang jam 7 (peraturan awal ibu saya maghrib harus sudah di rumah). Terkadang juga ada rapat yayasan di lingkungan dekat rumah sampai jam 9-10 malam. Nah, tahap pertama sering-sering curhat sama ibu kita, ceritakan hari itu kita ngapain aja, siapa temen kita, amanah apa aja yang kita emban. Seiring dengan berjalannya waktu ibu sayapun memahami, bahkan mendukung penuh saya untuk berorganisasi, karena saya bisa buktikan akademis saya tidak berantakan dan tetap berprestasi. Belum lagi saat ada bakti sosial deket rumah, ibu saya melihat kerja keras saya untuk masyarakat sekitar,maka tumbuhlah kepercayaan.

Lalu ada kondisi lagi ketika saya kuliah S1, utamanya di tingkat 3. Saya sudah mengatur prioritas saya. Misal, senin-jum’at untuk dakwah kampus,sabtu minggu untuk dakwah sekolah dan masyarakat. Maka saat saya ditunjuk menjadi ketua, saya sampaikan itu, bahwa saya tidak bisa ke kampus sabtu minggu, saya ngga bisa pulang larut malam juga, maksimal jam 6/7 sore. Kalau mau terima silahkan, kalau ngga juga tidak apa-apa. Itu prinsip saya dahulu.

Jadi saran saya, coba ajak bicara ibu, bisa jadi kita kurang waktunya untuk mendengar cerita mereka juga. Kalau memang tetap tidak boleh, coba sampaikan keterbatasan kita saat menerima amanah selanjutnya. Semoga menjawab ya J

  1. Bagaimana jika kita sudah mulai bosan dan tidak professional di organisasi, disebabkan karena penilaian orang yang tidak suka kepada kita?

Kalau saya pribadi, prinsip saya adalah tidak terlalu memusingkan perkataan atau sikap orang karena yang paling penting adalah pandangan Alloh terhadap saya.kalaupun mereka tidak professional, jangan ikut-ikutan. Itu namanya kita bekerja karena manusia, bukan karena ingin menambah pahala di hadapan-Nya. Saran saya, tetaplah bersikap professional, jangan ambil pusing sikap orang, yang paling penting adalah sejauh mana kita mau mengerja kebaikan, dan tetap memberikan yang terbaik yang kita bisa.

  1. Bagaimana jika kita sudah ikut organisasi, tapi dalam organisasi itu kita tidak diberi kesempatan untuk aktif berorganisasi, dan bagaimana cara supaya aktif di organisasi?

Bisa jadi ada 2 hal, pemimpin organisasinya yang kurang ngeh kita mau ambil bagian, atau kita yang kurang aktif inisiatif mengajukan bantuan . jadi saran saya setiap ada kegiatan atau program, berusahalah inisiatif baik dengan ide masukan, maupun mengambil bagian. Jangan malu berbicara, sampaikan apa yang kita mau sampaikan atau Tanya.insyaAlloh kita bisa menjadi orang yang aktif berorganisasi nantinya

  1. Terkadang mahasiswa yang (maaf) ekonominya kurang, biasanya lebih focus pada kuliah sambil kerja untuk hal ini bagaimana? Prioritas lebih baik yang mana?

Hmm, dia kan bekerja untuk kuliah, jadi tentu fokusnya menuntut ilmunya. Kalaupun dikarenakan bekerja ia tidak bisa ikut organisasi , itupun tak mengapa. Kalau bisa mengerjakan ketiganya (kuliah, kerja, organisasi) itu akan lebih baik lagi . Btw saya kuliahpun mengandalakn beasiswa. Dan sembari bekerja. Mengajar les bahasa inggris di sebuah lembaga maupun mengajar privat atau interpreter. Alhamdulillah.. semuanya bisa terlaksana.

  1. Jika ada kasus seseorang yang memiliki pola piker tidak mau berorganisasi di kampus dengan alas an bisa mendapat pengalaman yang didapat di organisasi dengan cara akademis seperti membaca, mengajar dll. Apakah pola tersebut perlu diperbaiki?

Menurut saya (yang memang sudah turun di dunia kerja), tentu keahlia n membaca, menulis, dan mengajar tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan soft skills kita, karena orang yang aktif di organisasi, ia akan cenderung lebih aktif, percaya diri, lebih rapih manajemennya, dan mampu bernegosiasi. Pelajaran ini ngga bisa didapat dari buku, tapi pengalaman langsung. Jadi saya tetap sarankan untuk memaksimalkan potensi kita selagi muda, tapi juga berorganisasi di kampus atau di masyarakat.

  1. Bagaimana mengistikomahkan diri untuk bisa menjadi organisatoris yang prestatif, selain itu kalau boleh tau amalan-amalan apa saja yang selalu dijalankan mba dewi?

Menjadi orang yang istiqomah memang bukanlah hal yang mudah, baik istiqomah dalam beribadah, maupun istiqomah dalam kebaikan serta tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Kalau saya kuncinya istiqomah itu adalah sepenuhnya menghamba kepada Alloh, memahami dan mengamalkan syahadat yang benar. Sedangkan dalam sholatpun kita selalu mengucapkan ”sungguh, hidup dan matiku hanya untuk Alloh,” maka ini yang harus kita refleksikan

Kedua, membaca Qur’an dan terjemahannya atau tafsirnya. Dengan begitu kita akan semakin cinta dan memahami keagungan-Nya. Saya ingat-ingat kelebihan orang yang istiqomah di dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Alloh” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu”. (QS. Fushilat:30)

Ketiga, senatiasa berteman dengan orang-orang yang dapat mengingatkan kita dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Biak dalam ibadah maupun prestasi.

Dan keempat berdoa sebagaimana doa Rosululloh SAW: “ Yaa muqoliibalqulub tsabit qolbi ‘ala siinik” artinya: “Wahai zat yang membolak balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim)

Mengenai amalan saya rasa sama saja denga nyang lain. Diluar ibadah fisik yang sunnah, entah tilawah, infaq, shaum sunnah, sholat dhuha, ada juga amalan hati. Saya selalu mencoba agar berhudznudzon kepada Alloh. Mengembalikan segala yang terjadi kepada Alloh dan meniatkan setiap aktivitas untuk-Nya.

 

  • KESIMPULAN:

Hakikatnya akademis dan organisasi memiliki kepentingan yang sejajar, Kedudukan ilmu begitu tinggi, kita tidak bisa bermanfaat tanpa memiliki pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat sama halnya dengan organisasi. Kita tidak bisa menyebarkan manfaat tanpa memiliki kecakapan untuk melakukan  interaksi (dengan niat ikhlas tentunya). Melihat urgensi yang sama besarnya, maka kita harus disiplin untuk terus berusaha sebagai kunci utama untuk menyeimbangkan akademik maupun organisasi.

Kontak Dewi Nur Aisyah: Facebook (Dewi Nur Aisyah) dan Instagram (@dewi.n.aisyah).

For your information, saat ini buku Awe-Inspiring Me karya Mba Dewi N. Aisyah. Bisa Pre-Order melalui kontak penerbitnya (Penerbit Serambi) langsung, ya. 🙂

 

Informasi kajian dan kegiatan lainnya:

Line                 : @pen8892p
IG                    : @hmpgeoupi
Facebook         : HMP Geografi UPI
Website           : http://www.geografi.upi.edu