Membentuk Karakteristik Peserta Didik Melalui Strategi Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid – 19

Penulis : Yusifa Muzri (1805243)
Editor : Stefan Primananda

Doc. Penulis

Pandemi Covid – 19 yang terjadi saat ini sangat berdampak terhadap seluruh sektor, Bukan hanya sektor ekonomi yang sangat terdampak akibat pandemi ini ternyata pandemi Covid – 19 pun berdampak pada sektor pendidikan. Meskipun pada saat ini pandemi Covid – 19 belum berakhir khusus nya di Indonesia, Sektor pendidikan harus tetap berjalan.

Untuk itu pemerintah khususnya Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dalam Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid – 19 yang diperkuat dengan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid – 19. Tentunya pemerintah mengeluarkan aturan tersebut dengan tujuan untuk tetap memenuhi hak peserta didik dalam mendapatkan layanan pendidikan dan memenuhi kewajiban tenaga pendidik dalam memberikan pelayanan pendidikan walaupun hanya dilakukan di rumah saja  dengan mempertimbangkan kesehatan serta mencegah penularan Covid – 19 di satuan pendidikan. Tentu nya hal tersebut tidak mudah berjalan begitu saja, perubahan pembelajaran dari Luring menjadi Daring perlu adaptasi bagi seluruh sektor yang berhubungan dengan pendidikan seperti tenaga pendidik, peserta didik bahkan orang tua. Dengan berlakunya pembelajaran daring bagi semua jenjang pendidikan menyebabkan pola aktivitas baru, Mulai dari kita harus membiasakan menggunakan teknologi yang mengharuskan siswa memiliki perangkat seperti laptop atau hp dan tentunya kuota internet dari hal tersebut muncul masalah baru yaitu tidak semua siswa memiliki perangkat dan distribusi jaringan di semua wilayah berbeda, Peran guru pun menjadi kurang signifikan karena tidak bertatap muka secara langsung karena pembelajaran dilakukan menggunakan platform pembelajaran daring seperti google meet, google classroom, zoom, whatsapp grup, google form dan sebagainya.

Tentunya pembelajaran daring juga berdampak kepada orang tua, Dalam pembelajaran daring ini peran orangtua dalam mendampingi anak nya menjadi sangat dibutuhkan terlebih jika anak mengalami kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran daring tetapi pada kenyataan masih banyak orang tua pun yang kurang paham dan kesulitan dalam penggunaan teknologi sehingga anak pun terkadang menjadi kebingungan pada saat pembelajaran. Hal –  hal tersebut merupakan masalah – masalah umum yang sudah banyak dirasakan masyarakat Indonesia dalam hal pendidikan.

Melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tahun 2021 dengan Tema “Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Membangun Desa Melalui Bidang Pendidikan Dan Ekonomi Dalam Implementasi MBKM Pada Masa Pandemi Covid – 19”. Fokus kajian kegiatan KKN yang saya lakukan pada bidang pendidikan adalah pada strategi dan kendala pembelajaran dengan objek sasaran guru, siswa, dan orang tua siswa.

Tempat program KKN yang sedang saya lakukan adalah di SMP Negeri 1 Cangkuang, Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Setelah saya melakukan kegiatan KKN dan berdiskusi bersama guru sasaran yang tentunya guru mata pelajaran di Sekolah terkait, ternyata kendala dalam pembelajaran daring ini bukan hanya saja mengenai teknologi saja namun ada kendala lain yang muncul dari siswa. Permasalahan yang muncul dari siswa itu diantaranya siswa sulit interaktif, siswa bermain – bermain dan kurang serius dalam belajar, kurang bersemangat dalam pembelajaran, kurang konsentrasi dan karakteristik siswa yang kurang terbentuk.

Karakteristik siswa pada saat pembelajaran daring kurang terbentuk terlihat dari antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran di rumah, Seperti pada saat mulai jam pelajaran masih banyak siswa yang belum mengikuti pelajaran, siswa hadir hanya untuk mengisi absen, Tidak mengerjakan tugas, Terlambat mengerjakan tugas, motivasi siswa yang kurang dalam mengikuti pembelajaran, tingkat kecerdasan siswa pun kurang, dan rasa tanggung jawab serta disiplin pun ikut berkurang.

Dari permasalahan tersebut tentunya sangat di khawatirkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas siswa sebagai generasi bangsa, Karena pendidikan adalah ujung tombak bangsa Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu solusi dan inovasi salah satunya dengan strategi pembelajaran maupun media pembelajaran.

Peran guru disini berusaha untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan penggunaan teknologi yang sudah maju, begitu pun orang tua siswa. Maka salah satu solusi untuk membentuk karakteristik siswa agar lebih interaktif adalah menerapkan strategi pembelajaran yang menyenangkan bisa dengan cara memberikan materi pelajaran yang dikemas dalam bentuk permainan, atau berupa soal – soal yang dikemas dalam kuis karena pada saat ini banyak sekali aplikasi berbentuk kuis atau permainan yang dapat dilakukan untuk menunjang pembelajaran sehingga siswa lebih bersemangat dalam belajar, selain itu juga dapat menggunakan media pembelajaran yang berbasis animasi atau bergambar agar lebih menarik, Guru pun dapat membuat video pembelajaran yang isi nya menjelaskan materi menggunakan gambar dan lain lain jadi pembelajaran tidak hanya terpaku pada whatsapp grup yang monoton dan tidak membentuk karakter siswa yang berpikir kritis karena dalam pembelajaran nya terkesan satu arah, Guru pun dituntut untuk tidak hanya memberikan tugas saja namun memberikan penjelasan materi agar siswa lebih paham.

Dengan strategi pembelajaran dan pemilihan media pembelajaran yang lebih menarik, inovatif, tidak mononton diharapkan siswa lebih berpikir kritis, senang berdiskusi, kreatif, interaktif dan berpikir kritis walaupun pada masa pandemi Covid – 19 ini pembelajaran dilakukan daring. Karena pembelajaran sekarang termasuk pembelajaran abad – 21 yang Menurut Wagner (2010) dan Change Leadership Group dari Universitas Harvard, Pembelajaran abad – 21 ini harus memiliki keterampilan 4 C (Critical Thinking, Collaboration, Communication, dan Creativity)

Maka dari kegiatan KKN ini yang dapat saya rasakan bahwa menjadi seorang tenaga pendidik itu tidak mudah, dan bagi saya sebagai calon tenaga pendidik hal tersebut menjadi motivasi dan semangat untuk terus berinovasi dalam membangun pendidikan di Indonesia.